"bahwa amal itu sia-sia belaka.... Seperti digambarkan oleh al-qur'an: bagaikan segenggam tanah di atas batu yang licin yang kemudian ditimpa hujan yang lebat. Tanah itu habis tidak berbekas sedikitpun di atas batu itu.... Akankah sia-sia semuanya???"
....................................................................
Sebuah statement dari saudara tercinta, uhibbuka fillah. Gw khawatir amal gw hari ini sia2.., tidak punya arti, tidak punya makna buat orang lain, dan terlebih lagi jauh lebi parah ,TIDAK PUNYA NILAI DI MATA SANG KHALIQ.
Banyak2 merenung deh, mudah2an bisa selalu introspeksi diri...
Dear my friend, seluruh amal nt, keikhlasan nt, InsyaAllah mempunyai timbangan yang berat di Yaumul akhir nanti, bahkan seberah biji zahrah pun pasti ada nilainya toh ?!!
Thanx for All,, bro..
gw garansi deh, insyaAllah el_ikhwane tidak akan pernah mati !!
InsyaAllah ....
Apalah arti testimoni di fs, jika ternyata lu bisa menjadi sahabat sejati
.................................
Friday, February 9, 2007
Tuesday, February 6, 2007
Agenda Pasca-CGI
Setelah 15 tahun menjalin kerjasama dengan Indpnesia, akhirnya CGI dibubarkan oleh presiden, Rabu (24/1) lalu. Keputusan itu bisa merupakan langkah awal terciptanya kedaulatan ekonomi. Tentu banyak yang harus dibenahi agar kita betul-betul berdaulat.
Yang jelas, mulai saat ini pemerintah setidaknya menjadi lebih independent dalam menentukan arak kebijakan sehingga lebih mampu mengedepankan kepentingan publik domestik. Tekanan dan intervensi dari kreditor diperkirakan akan berkurang.
Meskipun demikian kita harus tetap waspada atas berbagai bentuk intervensi yang masih dimungkinkan meski tanpa forum resmi, seperti Consultative Group on Indonesia (CGI). Jalur diplomasi di belakang pintu merupakan celah yang tetap potensial untuk menitipkan ‘pesan sponsor’. Tetapi setidaknya, kini tak ada lagi forum ritual dan seremonial yang mempertontonkan ketidakberdayaan para pejabat kita di hadapan kreditor scara keroyokan.
Ini penting bagi bangsa yang memiliki semangat kemerdekaan dan baru melalui masa-masa sulit dalam sepuluh tahun terakhir. Krisis membuktikan, negara yang telah merdeka secara konstitusi bisa dengan mudah bertekuk lutut secara ekonomi di hadapan bangsa lain dan lembaga internasional.
Berbagai agenda dan kepentingan asing secara kasatmata dicantumkan dalam letter of intent (LOI) dan dokumen pertemuan tahunan CGI kian menjauhkan negara dari rakyatnya. Pasal 33 UUD 1945 tinggal nama, digusur berbagai agenda liberalisasi penguasaan sumber daya alam yang terkandung di perut bumi dan air.
Karena itu, pembubaran CGI seharusnya diterjemahkan sebagai sebuah momen penting untuk meraih kembali kedaulatan yang telah lama hilang.
Adalah salah jika di antara kita masih menerjemahkannya hanya sebatas relasi finansial antara kreditor dan debitor. Lebih luas lagi, kita ingin memiliki kepercayaan atas kemampuan kita sendiri untuk memecahkan masalah yang kita hadapi. Sudah lama rakyat diokupasi persepsi, jika kita mau maju dan melangkah dengan benar, dibutuhkan stempel dari pihak luar
CK Prahalad yang beberapa waktu lalu berceramah di Jakarta menyatakan, salah satu yang membedakan China dan Indonesia adalah tingginya rasa percaya diri. Yang rendah diri tidak akanpernah menjadi bangsa yang maju.
Dengan demikian agenda pertama yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah menunjukkan CGI tidak akan lahir kembali dalam bentuk apapun.. Ketika pemerintah Soeharto membubarkan Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI), lahir sebuah harapan kita akan lepas dari ketergantungan terhadap pinjaman luar negeri.
Namun sekelompok ekonom dengan berbagai alasan, ditambah tekanan dari pihak luar , berhasil meyakinkan Soeharto bahwa forum kreditor masih relevan sehingga IGGI berganti baju menjaid CGI. Hingga kini, masih banyak yang percaya kita masih harus “ditongkrongi” oleh para londo. Ini merupakan warisan mental kaum terjajah dan merupakan bentuk ketidakmampuan kaum terpelajar untuk keluar dari perangkap penjajahan.
(Disadur from: Iman Sugema, Senior economist, Inter-CAFE, IPB)
Masih berminat untuk dijajah ??!!!
Go Freedom !!
Yang jelas, mulai saat ini pemerintah setidaknya menjadi lebih independent dalam menentukan arak kebijakan sehingga lebih mampu mengedepankan kepentingan publik domestik. Tekanan dan intervensi dari kreditor diperkirakan akan berkurang.
Meskipun demikian kita harus tetap waspada atas berbagai bentuk intervensi yang masih dimungkinkan meski tanpa forum resmi, seperti Consultative Group on Indonesia (CGI). Jalur diplomasi di belakang pintu merupakan celah yang tetap potensial untuk menitipkan ‘pesan sponsor’. Tetapi setidaknya, kini tak ada lagi forum ritual dan seremonial yang mempertontonkan ketidakberdayaan para pejabat kita di hadapan kreditor scara keroyokan.
Ini penting bagi bangsa yang memiliki semangat kemerdekaan dan baru melalui masa-masa sulit dalam sepuluh tahun terakhir. Krisis membuktikan, negara yang telah merdeka secara konstitusi bisa dengan mudah bertekuk lutut secara ekonomi di hadapan bangsa lain dan lembaga internasional.
Berbagai agenda dan kepentingan asing secara kasatmata dicantumkan dalam letter of intent (LOI) dan dokumen pertemuan tahunan CGI kian menjauhkan negara dari rakyatnya. Pasal 33 UUD 1945 tinggal nama, digusur berbagai agenda liberalisasi penguasaan sumber daya alam yang terkandung di perut bumi dan air.
Karena itu, pembubaran CGI seharusnya diterjemahkan sebagai sebuah momen penting untuk meraih kembali kedaulatan yang telah lama hilang.
Adalah salah jika di antara kita masih menerjemahkannya hanya sebatas relasi finansial antara kreditor dan debitor. Lebih luas lagi, kita ingin memiliki kepercayaan atas kemampuan kita sendiri untuk memecahkan masalah yang kita hadapi. Sudah lama rakyat diokupasi persepsi, jika kita mau maju dan melangkah dengan benar, dibutuhkan stempel dari pihak luar
CK Prahalad yang beberapa waktu lalu berceramah di Jakarta menyatakan, salah satu yang membedakan China dan Indonesia adalah tingginya rasa percaya diri. Yang rendah diri tidak akanpernah menjadi bangsa yang maju.
Dengan demikian agenda pertama yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah menunjukkan CGI tidak akan lahir kembali dalam bentuk apapun.. Ketika pemerintah Soeharto membubarkan Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI), lahir sebuah harapan kita akan lepas dari ketergantungan terhadap pinjaman luar negeri.
Namun sekelompok ekonom dengan berbagai alasan, ditambah tekanan dari pihak luar , berhasil meyakinkan Soeharto bahwa forum kreditor masih relevan sehingga IGGI berganti baju menjaid CGI. Hingga kini, masih banyak yang percaya kita masih harus “ditongkrongi” oleh para londo. Ini merupakan warisan mental kaum terjajah dan merupakan bentuk ketidakmampuan kaum terpelajar untuk keluar dari perangkap penjajahan.
(Disadur from: Iman Sugema, Senior economist, Inter-CAFE, IPB)
Masih berminat untuk dijajah ??!!!
Go Freedom !!
K-Link’isasi Diri
Gw, hari ini udah lebih dari 24 jam gabung ama K_Link.. Rasa-rasanya ga ada yang berubah dalam hidup gw.. he..he..he (Sorry buat up-line or sponsor gw, just kidding :)
Ada tambahan motivasi setelah gw baca and nontoh vcd yang dipinjemin ke gw ini (mana semua barang yang dipinjemin ada nama dan no hp nya lagi L )…
yaa tambahan motivasi untuk hidup sehat, teratur, lebih semangat dan mempunyai tambahan tujuan hidup sukses yang pasti.
SUKSES ???
Pernah gw tanyain ke bbrp orang , “ Sukses itu menurut lu apa sich??”
Hmm, jawabannya beragam.. ada yang bilang, gw sukses klo gw udah mencapai finish terhadap suatu goal yang gw cita2kan diawal. Ada lagi yang bilang gw sukses jika gw sudah bisa hidup teratur, anak-istri hidup dari hasil yang halal, ibadah tidak terhambat. Ada lagi yang bilang sukses dari ukuran kebahagiaan yang kadang2 diukur dari materi….
Whateverlah .., intinya semua orang ingin hidup sukses. Suatu cita-cita, atau bisa jadi visi misi hidup seseorang.
Back to K-Link..
Mungkin gw ingin menjadi sesuatu dengan bergabung ke K-Link.. dan sesuatu itu belum bisa gw bentuk secara utuh saat ini. Tapi yang pasti gw ingin menjadi sesuatu tersebut !! Jika tidak gabung, mgkn tidak bisa.. Ibarat ketika lu memutuskan untuk ikutan fitness mungkin lu ingin menjadi seseorang dengan tingkat kebugaran fisik yang prima. Atau ketika lu memutuskan untuk ikut les atau kursus bahasa pasti memiliki tujuan yang ingin diperoleh, ntah itu lu mahir bhs Inggris kek, bahasa Jepang kek, atau bahasa Sunda kale.., tapi intinya ketika kita telah memutuskan sesuatu maka jalankan dengan sungguh-sungguh, karena setiap keputusan pasti ada konsekuensi…
seperti kata Nike : Just Do it!!
So, like what I’ve said before : to be or Not to be !!!
Semoga menjadi motivasi yang tak pernah mati
Seperti isi message yang mampir ke ponsel gw tadi siang :
“ GO CROWN AMBASSADOR !!!“
31 Januari 2007
Ada tambahan motivasi setelah gw baca and nontoh vcd yang dipinjemin ke gw ini (mana semua barang yang dipinjemin ada nama dan no hp nya lagi L )…
yaa tambahan motivasi untuk hidup sehat, teratur, lebih semangat dan mempunyai tambahan tujuan hidup sukses yang pasti.
SUKSES ???
Pernah gw tanyain ke bbrp orang , “ Sukses itu menurut lu apa sich??”
Hmm, jawabannya beragam.. ada yang bilang, gw sukses klo gw udah mencapai finish terhadap suatu goal yang gw cita2kan diawal. Ada lagi yang bilang gw sukses jika gw sudah bisa hidup teratur, anak-istri hidup dari hasil yang halal, ibadah tidak terhambat. Ada lagi yang bilang sukses dari ukuran kebahagiaan yang kadang2 diukur dari materi….
Whateverlah .., intinya semua orang ingin hidup sukses. Suatu cita-cita, atau bisa jadi visi misi hidup seseorang.
Back to K-Link..
Mungkin gw ingin menjadi sesuatu dengan bergabung ke K-Link.. dan sesuatu itu belum bisa gw bentuk secara utuh saat ini. Tapi yang pasti gw ingin menjadi sesuatu tersebut !! Jika tidak gabung, mgkn tidak bisa.. Ibarat ketika lu memutuskan untuk ikutan fitness mungkin lu ingin menjadi seseorang dengan tingkat kebugaran fisik yang prima. Atau ketika lu memutuskan untuk ikut les atau kursus bahasa pasti memiliki tujuan yang ingin diperoleh, ntah itu lu mahir bhs Inggris kek, bahasa Jepang kek, atau bahasa Sunda kale.., tapi intinya ketika kita telah memutuskan sesuatu maka jalankan dengan sungguh-sungguh, karena setiap keputusan pasti ada konsekuensi…
seperti kata Nike : Just Do it!!
So, like what I’ve said before : to be or Not to be !!!
Semoga menjadi motivasi yang tak pernah mati
Seperti isi message yang mampir ke ponsel gw tadi siang :
“ GO CROWN AMBASSADOR !!!“
31 Januari 2007
Memanusiakan Diri Sendiri
Beberapa hari yang lalu gw ikutan training.., training biasa sich. Soft-skill training getoo.. Ada satu substansi yang pengen gw share di sini.Tentang hal-hal kecil yang kelihatannya biasa dalam rutinitas kehidupan kita sehari-hari. Kita masuk dalam contoh ril aja deh…
Kongkret !!
Lu pernah kan naik becak?!! Ya becak roda tiga, satu di belakang, dua di depan dan memperoleh energi penggerak dari kekuatan mengayuh si Abang becak.. Ketika suatu hari katakanlah lu pulang dari kampus,kerja or dari suatu tempat aja getoo. Hari Ujan deras (sprt akhir2 ini di Kota Kembang ni, kalo udah jam-jam 10 or 11 siang udah deh mulai redup tuh langit; Sang Pencipta mgkn akan segera menurunkan berkah Nya dari Langit),dan lu baru turun dari angkot. Tapi perjalanan menuju rumah, or kost tercinta masih beberapa ratus meter lagi.. Mau jalan, lu gengsi takut basah kuyup.
Lalu, lu liat ada tukang becak, ama topi bututnya, celana n baju rombeng, badan kurus berbalut kulit, muka hitam dan kumis serta jenggot yang lebat tidak terawatt, berteduh di atas langit yang menumpahkan air nya ke muka bumi.
Lu samperin tu tukang becak …
“ Bang ke Kebon Bibit berapa ?? “
Si tukang becak bergegas menghampiri dengan senyum ..,
“ Alhamdulillah anak-istri saya bisa makan nih hari “ riangnya dalam hati..
“5 Rebu den” , sahut si tukang becak, berharap.
“Mahal Amat !! deket kok bang, Dua rebu aja yach “ ... dengan enteng nya lu tawar ...
Si tukang becak membathin .......
Kalau saya tolak dua ribu, tawaran ni anak, anak-istri saya di rumah bakal ga makan.. saya nanti bakal bawa pulang apa....
Mulai terjadi negosiasi .......
“ Empat ribu lima ratus aja den ya.., penglaris lah J “
Lu, yang uang lima ribu, katakanlah buat sekali jajan, merasa perlu untuk menawar kembali. Karena merasa itu adalah harga yang terukur MAHAL untuk jasa mengantar ke tempat yang lu tuju di tengah guyuran hujan.
Lu melakukan penawaran hingga tercapai kata sepakat dengan si dia, pencari nafkah di tengah guyuran hujan untuk membawa sedikit rezeqi yang ditunggu oleh anak-istri di rumah.
Arti LIMA RIBU RUPIAH bisa banyak beragam nilai buat kita, manusia, yang idup di zaman antah-barantah ini...
Arti LIMA RIBU mungkin saja seperti yang gw ilustrasikan di atas, namun, buat si abang becak adalah suatu arti yang mungkin jauh lebih bernilai.
Masih teringat jelas di benak kita mungkin, bagaimana MANUSIAWI nya orang2 berbaju dinas coklat muda, or kuning kenari kata orang, menggusur-menggilas atau apapun namanya di sejumlah daerah di negeri kita ini. Atas dasar penegakkan hukum, relokasi tempat, tanah milik negara atau apapun namanya, selalu melakukan cara-cara yang menurut kacamata mereka SESUAI PROSEDUR.. Manusiawi kah??....
...............................................
Gw cukup berfikir sederhana saja, bagaimana jika orang-orang yang digusur itu adalah ayah kita, ibu kita, adik-adik kita, atau mungkin kita sendiri. Sederhana sekali, seandainya orang-orang mengambil keputusan tersebut memposisikan dirinya sebagai orang-orang tertindas (red:terzalimi), tegakah dia ??/
Mungkin sangat sulit mencari orang-orang yang berjiwa ‘indah’, bisa ber-empati dengan tinggi. Bahkan kita sendiri perlu belajar banyak... Mungkin gw juga sama kayak elu yang bakal nawar ketika mau naik becak, di tengah guyuran hujan deras tersebut...
Tapi, pernahkan sejenak kita merenung, mungkin sebelum naik becaknya aja, bayangkan jika diri kita ini, yang katanya UANG LIMA RIBU UNTUK SEKALI JAJAN, berada dalam posisi seperti si tukang becak tersebut..
Dengan begitu, harapannya.., kita bisa memanusiakan diri kita sendiri, menumbuhkan rasa-rasa empati terhadap orang lain, sehingga hidup menjadi lebih indah. Semoga !!
31 Januari 2007
Kongkret !!
Lu pernah kan naik becak?!! Ya becak roda tiga, satu di belakang, dua di depan dan memperoleh energi penggerak dari kekuatan mengayuh si Abang becak.. Ketika suatu hari katakanlah lu pulang dari kampus,kerja or dari suatu tempat aja getoo. Hari Ujan deras (sprt akhir2 ini di Kota Kembang ni, kalo udah jam-jam 10 or 11 siang udah deh mulai redup tuh langit; Sang Pencipta mgkn akan segera menurunkan berkah Nya dari Langit),dan lu baru turun dari angkot. Tapi perjalanan menuju rumah, or kost tercinta masih beberapa ratus meter lagi.. Mau jalan, lu gengsi takut basah kuyup.
Lalu, lu liat ada tukang becak, ama topi bututnya, celana n baju rombeng, badan kurus berbalut kulit, muka hitam dan kumis serta jenggot yang lebat tidak terawatt, berteduh di atas langit yang menumpahkan air nya ke muka bumi.
Lu samperin tu tukang becak …
“ Bang ke Kebon Bibit berapa ?? “
Si tukang becak bergegas menghampiri dengan senyum ..,
“ Alhamdulillah anak-istri saya bisa makan nih hari “ riangnya dalam hati..
“5 Rebu den” , sahut si tukang becak, berharap.
“Mahal Amat !! deket kok bang, Dua rebu aja yach “ ... dengan enteng nya lu tawar ...
Si tukang becak membathin .......
Kalau saya tolak dua ribu, tawaran ni anak, anak-istri saya di rumah bakal ga makan.. saya nanti bakal bawa pulang apa....
Mulai terjadi negosiasi .......
“ Empat ribu lima ratus aja den ya.., penglaris lah J “
Lu, yang uang lima ribu, katakanlah buat sekali jajan, merasa perlu untuk menawar kembali. Karena merasa itu adalah harga yang terukur MAHAL untuk jasa mengantar ke tempat yang lu tuju di tengah guyuran hujan.
Lu melakukan penawaran hingga tercapai kata sepakat dengan si dia, pencari nafkah di tengah guyuran hujan untuk membawa sedikit rezeqi yang ditunggu oleh anak-istri di rumah.
Arti LIMA RIBU RUPIAH bisa banyak beragam nilai buat kita, manusia, yang idup di zaman antah-barantah ini...
Arti LIMA RIBU mungkin saja seperti yang gw ilustrasikan di atas, namun, buat si abang becak adalah suatu arti yang mungkin jauh lebih bernilai.
Masih teringat jelas di benak kita mungkin, bagaimana MANUSIAWI nya orang2 berbaju dinas coklat muda, or kuning kenari kata orang, menggusur-menggilas atau apapun namanya di sejumlah daerah di negeri kita ini. Atas dasar penegakkan hukum, relokasi tempat, tanah milik negara atau apapun namanya, selalu melakukan cara-cara yang menurut kacamata mereka SESUAI PROSEDUR.. Manusiawi kah??....
...............................................
Gw cukup berfikir sederhana saja, bagaimana jika orang-orang yang digusur itu adalah ayah kita, ibu kita, adik-adik kita, atau mungkin kita sendiri. Sederhana sekali, seandainya orang-orang mengambil keputusan tersebut memposisikan dirinya sebagai orang-orang tertindas (red:terzalimi), tegakah dia ??/
Mungkin sangat sulit mencari orang-orang yang berjiwa ‘indah’, bisa ber-empati dengan tinggi. Bahkan kita sendiri perlu belajar banyak... Mungkin gw juga sama kayak elu yang bakal nawar ketika mau naik becak, di tengah guyuran hujan deras tersebut...
Tapi, pernahkan sejenak kita merenung, mungkin sebelum naik becaknya aja, bayangkan jika diri kita ini, yang katanya UANG LIMA RIBU UNTUK SEKALI JAJAN, berada dalam posisi seperti si tukang becak tersebut..
Dengan begitu, harapannya.., kita bisa memanusiakan diri kita sendiri, menumbuhkan rasa-rasa empati terhadap orang lain, sehingga hidup menjadi lebih indah. Semoga !!
31 Januari 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)