Tuesday, February 6, 2007

Memanusiakan Diri Sendiri

Beberapa hari yang lalu gw ikutan training.., training biasa sich. Soft-skill training getoo.. Ada satu substansi yang pengen gw share di sini.Tentang hal-hal kecil yang kelihatannya biasa dalam rutinitas kehidupan kita sehari-hari. Kita masuk dalam contoh ril aja deh…
Kongkret !!
Lu pernah kan naik becak?!! Ya becak roda tiga, satu di belakang, dua di depan dan memperoleh energi penggerak dari kekuatan mengayuh si Abang becak.. Ketika suatu hari katakanlah lu pulang dari kampus,kerja or dari suatu tempat aja getoo. Hari Ujan deras (sprt akhir2 ini di Kota Kembang ni, kalo udah jam-jam 10 or 11 siang udah deh mulai redup tuh langit; Sang Pencipta mgkn akan segera menurunkan berkah Nya dari Langit),dan lu baru turun dari angkot. Tapi perjalanan menuju rumah, or kost tercinta masih beberapa ratus meter lagi.. Mau jalan, lu gengsi takut basah kuyup.
Lalu, lu liat ada tukang becak, ama topi bututnya, celana n baju rombeng, badan kurus berbalut kulit, muka hitam dan kumis serta jenggot yang lebat tidak terawatt, berteduh di atas langit yang menumpahkan air nya ke muka bumi.
Lu samperin tu tukang becak …
“ Bang ke Kebon Bibit berapa ?? “
Si tukang becak bergegas menghampiri dengan senyum ..,
“ Alhamdulillah anak-istri saya bisa makan nih hari “ riangnya dalam hati..
“5 Rebu den” , sahut si tukang becak, berharap.
“Mahal Amat !! deket kok bang, Dua rebu aja yach “ ... dengan enteng nya lu tawar ...
Si tukang becak membathin .......
Kalau saya tolak dua ribu, tawaran ni anak, anak-istri saya di rumah bakal ga makan.. saya nanti bakal bawa pulang apa....
Mulai terjadi negosiasi .......
“ Empat ribu lima ratus aja den ya.., penglaris lah J “
Lu, yang uang lima ribu, katakanlah buat sekali jajan, merasa perlu untuk menawar kembali. Karena merasa itu adalah harga yang terukur MAHAL untuk jasa mengantar ke tempat yang lu tuju di tengah guyuran hujan.
Lu melakukan penawaran hingga tercapai kata sepakat dengan si dia, pencari nafkah di tengah guyuran hujan untuk membawa sedikit rezeqi yang ditunggu oleh anak-istri di rumah.
Arti LIMA RIBU RUPIAH bisa banyak beragam nilai buat kita, manusia, yang idup di zaman antah-barantah ini...
Arti LIMA RIBU mungkin saja seperti yang gw ilustrasikan di atas, namun, buat si abang becak adalah suatu arti yang mungkin jauh lebih bernilai.

Masih teringat jelas di benak kita mungkin, bagaimana MANUSIAWI nya orang2 berbaju dinas coklat muda, or kuning kenari kata orang, menggusur-menggilas atau apapun namanya di sejumlah daerah di negeri kita ini. Atas dasar penegakkan hukum, relokasi tempat, tanah milik negara atau apapun namanya, selalu melakukan cara-cara yang menurut kacamata mereka SESUAI PROSEDUR.. Manusiawi kah??....
...............................................
Gw cukup berfikir sederhana saja, bagaimana jika orang-orang yang digusur itu adalah ayah kita, ibu kita, adik-adik kita, atau mungkin kita sendiri. Sederhana sekali, seandainya orang-orang mengambil keputusan tersebut memposisikan dirinya sebagai orang-orang tertindas (red:terzalimi), tegakah dia ??/
Mungkin sangat sulit mencari orang-orang yang berjiwa ‘indah’, bisa ber-empati dengan tinggi. Bahkan kita sendiri perlu belajar banyak... Mungkin gw juga sama kayak elu yang bakal nawar ketika mau naik becak, di tengah guyuran hujan deras tersebut...
Tapi, pernahkan sejenak kita merenung, mungkin sebelum naik becaknya aja, bayangkan jika diri kita ini, yang katanya UANG LIMA RIBU UNTUK SEKALI JAJAN, berada dalam posisi seperti si tukang becak tersebut..
Dengan begitu, harapannya.., kita bisa memanusiakan diri kita sendiri, menumbuhkan rasa-rasa empati terhadap orang lain, sehingga hidup menjadi lebih indah. Semoga !!

31 Januari 2007

No comments: